Cari Blog Ini

Sabtu, 28 Februari 2015

Tidak Butuh Pagi

Sudah sebulan...
Pagi meninggalkan sungai
Untuk mencari sebuah kemuliaan
Keputusan yang baginya hebat
Bagi dia,
Sungai tidak ada artinya lagi
Bagi sungai,
Dia masih berarti
Untuk memberikan sinar hangatnya
Kepada sungai itu
Namun..
Setelah apa yang dialami oleh sungai
Setelah ditinggalkan oleh pagi
Dan pagi sebentar lagi akan
Akan mendapatkan yang ia mau
Maka dia merasa
Bahwa dia tidak butuh pagi
Karena pagi telah menghancurkan sungai
Oleh perbuatannya sendiri
Yang selama sebulan ini
Tidak menyinari sungai
Seperti dahulu
Ketika pagi masih memberi kasih
Kasih yang hangat untuk sungai
Sehingga kehidupan di sungai itu
Sangat bahagia dan tentram
Namun itu dulu
Ketika pagi masih peduli
Peduli dengan sungai
Dan tidak ingin mencari
Sebuah kemuliaan
Dan..
Saat sungai tahu
Bahwa pagi hampir mendapat kemuliaan
Maka sang sungai memutuskan
Bahwa ia tidak butuh pagi
Karena pagi tidak pantas untuk diharapkan
Diharapkan untuk hadir kembali
Sungai tidak butuh pagi

Selasa, 10 Februari 2015

Seminggu

Waktu...
Sebuah kata penuh makna
Yang tidak bisa dibeli dengan uang
Dan yang tidak bisa diulang
Karena kita tidak bisa mengaturnya
Karena hanya Tuhan yang mampu berbuat seperti itu
Dan,
Telah seminggu lamanya
Dunia berubah sangat cepat
Sudut pandang diri pun berubah
Dari yang terbiasa fokus dengan pagi
Kini sudah tak kenal pagi
Masih teringat di dalam akal
Pagi itu menyapa diri
Diri yang sangat ingin berjumpa dengan pagi
Namun,
Entah apa yang terjadi dengan pagi
Kini pagi hilang dengan jiwa yang lain
Yang mungkin tidak membutuhkan pagi
Tetapi pagi tetap ingin menghampirinya
Dia sangat peduli terhadap jiwa itu
Dibandingkan dengan jiwa,
Yang dulu dia datangi
Yang dulu dia beri cahaya kasih
Entah apa yang dia lakukan kini
Bersama jiwa itu diluar sana
Yang pasti adalah
Sudah seminggu dia hilang dari jiwa ini
Seminggu juga dia memutuskan pergi
Dan berharap kepekaan dari jiwa
Jiwa yang datang
Diantara aku dan pagi
Sudah seminggu

Senin, 09 Februari 2015

Sebuah Cermin

Refleksi, Maya, Semu
Itulah sifat cermin
Sifat yang selalu diajarkan di bangku sekolah
Dan kini aku telah belajar
Bahwa cermin bukan hanya sebuah benda
Sebuah benda yang menampilkan apa yang dilihatnya
Tetapi lebih dari itu
Cermin adalah penggambaran dari suatu jiwa
Jiwa yang berada dalam cermin itu sendiri
Jiwa yang telah kuamati dari jauh-jauh hari
Jiwa yang tak pernah mengerti
Bahwa hamba mengenal dan ingin jiwa itu
Lebih dari seorang teman
Namun,
Jiwa itu sangatlah batu
Dia telah dibutakan oleh jiwa lain
Yang ia temui di dalam cermin
Dia telah berubah karena jiwa itu
Jiwa yang entah darimana bisa dekat dengannya
Tanpa peduli bahwa hamba sedang bercermin
Bercermin menatap jiwa yang hamba inginkan
Seketika itu juga...
Hamba kehilangan jiwa yang biasa hamba tatap
Menatapnya dari luar sebuah cermin
Sekarang, hamba sudah tak tahan bercermin
Ingin rasanya hamba mengambil kembali jiwa itu
Tapi itu sebuah kemustahilan
Karena jiwa itu tak mau bercermin denganku
Sebuah usaha yang akan sia-sia
Tapi,
Jika aku saat ini bisa mengambil jiwa itu
Tetap saja itu bukan jiwa yang dulu
Yang dulu mewarnai hamba bercermin
Karena saat ini jiwa yang kumaksud telah berubah
Berubah dari yang nyata menjadi semu
Oh cermin..
Jika aku mencari jiwa baru
Tentu aku mendapat hinaan dari jiwa yang kuinginkan dulu
Karena aku
Adalah sebuah cerminan dari seorang tokoh
Yang tidak memiliki sebuah pilihan
Karena pilihan utamaku telah hilang
Yakni,
Bersamanya untuk selamanya

Tidak Ada Pilihan

Serba salah...
Itulah yang selalu dialami oleh para lelaki
Lebih tepatnya seorang lelaki sejati
Ketika itu terjadi,
Tidak ada hal yang dapat dibenarkan
Apalagi,
Jika seorang gadis telah mengutuk
Mengutuk lelaki bahwa dirinya yang salah
Walaupun kejadiannya tidak seperti itu
Tetapi, tetaplah dari ribuan
Bahkan segunung lelaki
Jika dihadapkan kepada seorang gadis pengutuk
Pasti mereka semua dikutuk salah oleh dia
Jika seorang lelaki,
Telah menjalin kasih dengan sang gadis
Tetap saja tidak ada perubahan
Perubahan yang berarti buat sang lelaki
Seperti pada sebuah kisah
Ketika sang gadis memutuskan kasih sucinya
Dari seorang lelaki sejati kepada lelaki yang baru ia kenal
Maka sang lelaki tak bisa menolak
Menolak keputusan sang gadis
Dan ketika lelaki itu memutuskan
Untuk mencari gadis yang lain
Untuk menghibur hati sepinya
Sang gadis mengutuk lelaki itu
Mengatakan bahwa dia cepat sekali berganti kasih
Padahal,
Sang gadis sendiri yang berganti kasih terlebih dahulu
Dibandingkan dengan lelaki ini
Sungguh malang lelaki berhati sepi ini
Hanya satu yang ia tahu
Bahwa ia tak punya pilihan